TEORI
BELAJAR KOGNITIF
Makalah
Untuk Memenuhi Tugas
Mata Kuliah Belajar dan
Pembelajaran
Yang dibina oleh Bapak Ahmad
Mutadzakir
Oleh:
Galuh Ginanjar Astut
Maksum Akbar
UNIVERSITAS
NEGERI MALANG
FAKULTAS ILMU
PENDIDIKAN
JURUSAN
PENDIDIKAN LUAR SEKOLAH
Februari 2013
PENDAHULUAN
A.
Latar
Belakang
Belajar
merupakan kegiatan orang sehari-hari. Kegiatan belajar tersebut dapat dihayati
(dialami) oleh orang yang sedang belajar. Di samping itu, kegiatan belajar juga
dapat diamati oleh orang lain. Kegiatan belajar yang berupa perilaku kompleks
tersebut tersebut telah lama menjadi objek penelitian ilmuan. Kompleksnya
perilaku belajar tersebut menimbulkan berbagai teori belajar.
Teori
pembelajaran merupakan penyedia panduan bagi pengajar untuk membantu siswa
didik dalam mengembangkan kognitif, emosional, sosial, fisik, dan spiritual.
Panduan-panduan tersebut adalah kejelasan
informasi yang mendeskripsikan tujuan, pengetahuan yang diperlukan, dan
unjuk kerjaan itu penting. Hal ini adalah untuk mengantisipasi perubahan yang
terjadi di dunia pendidikan. Jadi teori pembelajaran itu penting sebagai suatu
dasar pengetahuan yang memandu praktek pendidikan: “bagaimana memfasilitasi
belajar” dalam dunia pendidikan yang senantiasa berubah, terlebih dalam cakupan
yang sistemik.
Belajar
secara umum dapat diartikan sebagai proses perubahan perilaku yang relatif
menetap sebagai hasil hasil dari pengalaman. Perubahan tersebut tentu tidak
langsung terjadi karena akan memerlukan proses. Dalam suatu proses belajar ada
banyak sekali aspek yang harus diperhatikan seperti apa saja teori belajar,
prinsip-prinsip dalam belajar, pendekatan terhadap peserta didik yang dilakukan
oleh fasilitator atau guru dan masih banyak lagi.
Berikut
ini kami akan membahas tentang salah satu teori belajar yang ada yakni teori
belajar kognitif. Menurut Jean Piaget, 2 hal penting yg harus diingat tentang membangun struktur
kognitif yaitu seseorang terlibat secara aktif dalam membangun proses dan
lingkungan dimana seseorang berinteraksi penting untuk perkembangan struktural.
Hal tersebut tentu berbeda dengan beberapa teori lainnya.
Teori belajar kognitif lebih menekankan pada belajar merupakan suatu proses
belajar yang terjadi dalam akal pikiran manusia atau gagasan manusia bahwa
bagian-bagian suatu situasi saling berhubungan dalam konteks situasi secara
keseluruhan. Jadi belajar melibatkan proses berfikir yang kompleks dan
mementingkan proses belajar.
B.
Rumusan
Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah di atas maka
dikemukakan rumusan masalah sebagai berikut :
1. apakah
konsep dari teori belajar kognitif ?
2. bagaimana
implikasi teori belajar kognitif dalam dunia pendidikan?
C.
Tujuan
Tujuan dari penulisan makalah ini adalah sebagai
berikut :
1. memahami
konsep teori belajar kognitif.
2. memahami
implikasi teori belajar kognitif dalam dunia pendidikan.
PEMBAHASAN
A.
Teori
Belajar Konitif
Belajar kognitif memandang belajar
sebagai proses pemfungsian unsur-unsur kognisi, terutama unsur pikiran, untuk
dapat mengenal dan memahami stimulus yang datang dari luar. Aktivitas belajar
pada diri manusia ditekankan pada proses internal berfikir, yakni proses
pengolahan informasi.
Teori belajar kognitif lebih menekankan pada belajar
merupakan suatu proses yang terjadi dalam akal pikiran manusia. Seperti juga
diungkapkan oleh Winkel (1996: 53) bahwa “Belajar adalah suatu aktivitas mental
atau psikis yang berlangsung dalam interaksi aktif dengan lingkungan yang
menghasilkan perubahan-perubahan dalam pengetahuan pemahaman, ketrampilan dan
nilai sikap. Perubahan itu bersifat secara relatif dan berbekas”.
Sehingga dapat disimpulkan bahwa pada dasarnya belajar
adalah suatu proses usaha yang melibatkan aktivitas mental yang terjadi dalam
diri manusia sebagai akibat dari proses interaksi aktif dengan lingkungannya
untuk memperoleh suatu perubahan dalam bentuk pengetahuan, pemahaman, tingkah
laku, ketrampilan dan nilai sikap yang bersifat relatif dan berbekas.
B.
Prinsip-Prinsip
Teori Belajar Kognitif
Berdasarkan pendapat dari Drs. Bambang Warsita
(2008:89) yang menyatakan tentang prinsip- prinsip dasar teori kognitifisme, antara
lain:
- pembelajaran
merupakan suatu perubahan status pengetahuan
- peserta
didik merupakan peserta aktif didalam proses pembelajaran
- menekankan
pada pola pikir peserta didik
- berpusat
pada cara peserta didik mengingat, memperoleh kembali dan menyimpan informasi
dalam ingatannya
- menekankan
pada pengalaman belajar, dengan memandang pembelajaran sebagai proses
aktif di dalam diri peserta didik
- menerapkan reward and punishment
- hasil
pembelajaran tidak hanya tergantung pada informasi yang disampaikan guru,
tetapi juga pada cara peserta didik memproses informasi tersebut.
C.
Tokoh-Tokoh
Aliran Kognitif
1.
Teori Belajar Cognitive Developmental dari Piaget
Piaget memandang bahwa proses berpikir sebagai
aktivitas gradual dari fungsi intelektual dari konkret menuju abstrak. Piaget
adalah ahli psikolog developmentat
karena penelitiannya mengenai tahap tahap perkembangan pribadi serta perubahan
umur yang mempengaruhi kemampuan belajar individu. Menurut Piaget, pertumbuhan
kapasitas mental memberikan kemampuan-kemapuan mental yang sebelumnya tidak
ada. Pertumbuhan intelektuan adalah tidak kuantitatif, melainkan kualitatif.
Dengan kata lain, daya berpikir atau kekuatan mental anak yang berbeda usia
akan berbeda pula secara kualitatif.
Jean Piaget mengklasifikasikan perkembangan kognitif
anak menjadi beberapa tahap yaitu.
a.
Tahap sensory – motor, yakni perkembangan ranah
kognitif yang terjadi pada usia 0-2 tahun, Tahap ini diidentikkan dengan
kegiatan motorik dan persepsi yang masih sederhana. Ciri-ciri tahap
sensorimotor adalah:
1) didasarkan tindakan
praktis.
2) inteligensi bersifat
aksi, bukan refleksi.
3) menyangkut jarak yang
pendek antara subjek dan objek.
4) mengenai periode
sensorimotor:
5) umur hanyalah
pendekatan. Periode-periode tergantung pada banyak faktor: lingkungan sosial
dan kematangan fisik.
6) urutan periode tetap.
7) perkembangan gradual
dan merupakan proses yang kontinu.
b.
Tahap pre – operational, yakni perkembangan
ranah kognitif yang terjadi pada usia 2- 7 tahun. Tahap ini diidentikkan dengan
mulai digunakannya symbol atau bahasa tanda, dan telah dapat memperoleh
pengetahuan berdasarkan pada kesan yang agak abstrak.
c.
Tahap concrete – operational, yang terjadi pada
usia 7-11 tahun. Tahap ini dicirikan dengan anak sudah mulai menggunakan
aturan-aturan yang jelas dan logis. Anak sudah tidak memusatkan diri pada
karakteristik perseptual pasif.
d.
Tahap formal – operational, yakni perkembangan
ranah kognitif yang terjadi pada usia 11-15 tahun. Ciri pokok tahap yang
terahir ini adalahanak sudah mampu berpikir abstrak dan logisdengan menggunakan
pola pikir “kemungkinan”.
Menurut Piaget, proses adaptasi seseorang dengan
lingkungannya terjadi secara simultan melalui dua bentuk proses, asimilasi dan
akomodasi. Asimilasi terjadi jika pengetahuan baru yang diterima seseorang
cocok dengan struktur kognitif yang telah dimiliki seseorang tersebut.
Sebaliknya, akomodasi terjadi jika struktur kognitif yang telah
dimiliki seseorang harus direkonstruksi atau dikode ulang disesuaikan dengan
informasi yang baru diterima.
Dalam teori perkembangan kognitif ini Piaget juga
menekankan pentingnya penyeimbangan (equilibrasi) agar seseorang dapat
terus mengembangkan dan menambah pengetahuan sekaligus menjaga stabilitas
mentalnya. Equilibrasi ini dapat dimaknai sebagai sebuah keseimbangan antara
asimilasi dan akomodasi sehingga seseorang dapat menyatukan pengalaman luar
dengan struktur dalamya. Proses perkembangan intelek seseorang berjalan dari
disequilibrium menuju equilibrium melalui asimilasi dan akomodasi.
2.
David Ausubel
Menurut Ausubel dalam buku karya Drs. Bambang Warsita
bahwa “belajar haruslah bermakna, materi yang dipelajari diasimilasi secara
nonarbitrer dan berhubungan dengan pengetahuan yang dimiliki
sebelumnya”(2008:72). Hal ini berari bahwa pembelajaran bermakna merupakan
suatu proses yang dikaitkan dengan informasi baru pada konsep-konsep relevan
yang terdapat dalam struktur kognitif peserta didik. Dimana Proses belajar
tidak sekedar menghafal konsep-konsep atau fakta-fakta saja, tetapi merupakan kegiatan
yang menghubungkan konsep-konsep untuk menghasilkan pemahaman yang utuh
sehingga konsep yang dipelajari akan dipahami secara baik dan tidak mudah
dilupakan. Jadi guru harus menjadi perancang pembelajaran dan pengembang
program pembelajaran dengan berusaha mengetahui dan menggali konsep-konsep yang
dimiliki peserta didik dan membantu memadukan secara harmonis dengan pengetahuan
baru yang dipelajari.
Langkah-langkah pembelajaran bermakna menurut
Ausebel,dalam merancang pembelajaran antara lain: 1) menentukan tujuan
pembelajaran; 2) melakukan identifikasi peserta didik; 3) memilih materi
pembelajaran sesuai karakteristik peserta didik dan mengaturnya dalam bentuk
konsep inti; 4) menentukan topik peserta didik dalam bentuk advance organizers;
5) mengembangkan bahan belajar untuk dipelajari peserta didik; 6) mengatur
topik pembelajaran dari yang sederhana ke kompleks; 7) melakukan penilaian
proses dan hasil belajar peserta didik.
3.
Jerome
Bruner
Berdasarkan
Drs. Wasty Soemanto (1997:127) dan Drs. Bambang warsita(2008:71) dimana Jarome
Bruner mengusulkana teori yang disebutnya free discovery learning.Teori ini
bertitik tolak pada teori kognitif, yang menyatakan belajar adalah perubahan
persepsi dan pemahan. Maksudnya, teori ini menjelaskan bahwa proses belajar
akan berjalan dengan baik dan kreatif jika guru memberikan kesempatan kepada
siswa untuk menemukan suatu aturan termasuk konsep, teori, ide, definisi dan
sebagainya melalui contoh-contoh yang menggambarkan atau mewakili aturan yang
menjadi sumbernya.
Keuntungan
belajar menemukan : Menimbulkan rasa ingin tahu siswa sehingga dapat memotivasi
siswa sehingga dapat menemukan jawabannya. Menimbulkan keterampilan memecahkan
masalahnya secara mandiri dan mengharuskan siswa untuk menganalisis dan
memanipulasi informasi. Menurut Burner ada tiga tahap perkembangan kognitif
seseorang yang ditentukan oleh cara melihat lingkungan, antara lain: tahap
pertama enaktif yaitu peserta didik melakukan aktivitas dalam usaha memahami
lingkungan; tahap kedua, ikonik yaitu peserta didik melihat dunia melalui
gambar dan visualisasi verbal; tahap yang ketiga, simbolok yaitu peserta didik
mempunyai gagasan abstrak dimana komunikasi dibantu sistem simbolik.
Langkah-langkah
pembelajaran dalam merancang pembelajaran menurut Bruner antara lain: 1)
menentukan tujuan pembelajaran; 2) melakukan identifikasi peserta didik; 3)
memilih materi pembelajaran; 4) menentukan topik secara induktif; 5)
mengembangkan bahan belajar untuk dipelajari peserta didik; 6) mengatur topik
pembelajaran dari yang sederhana ke kompleks; 7) melakukan penilaian proses dan
hasil belajar peserta didik.
4.
Albert
Bandura
Bandura
berpendapat tentang teori kognitif sosial. Seperti yang dijelaskan dalam buku
karya John W. Santrock (2007:285) yang menyatakan bahwa teori Kognitif Sosial
(Social Cognitive Theory) merupakan faktor sosial dan kognitif dan juga faktor
perilaku, memainkan peran penting dalam pembelajaran. Hal ini berarti bahwa
faktor kognitif berupa ekspektasi murid untuk meraih keberhasilan sedangkan
faktor sosial mencakup pengamatan murid terhadap perilaku orang tuanya. Jadi
menurut Bandura antara faktor kognitif/person, faktor lingkungan dan faktor
perilaku mempengaruhi satu sama lain dan faktor-faktor ini bisa saling
berinteraksi untuk mempengaruhi pembelajaran. Faktor kognitif mencakup
ekspektasi, keyakinan, strategi, pemikiran dan kecerdasan.
5.
Kurt
Lewin
Tokoh
teori belajar kognitif adalah Kurt Lewin yang menyatakan tentang teori belajar
medan kognitif (cognitive-field learning theory). Seperti yang di jelaskan oleh
Nana Sudjana dalam bukunya yang menjelaskan bahwa dalam teori belajar medan
kognitif, “belajar didefinisikan sebagaai proses interaksional dimana pribadi
menjangkau wawasan-wawasan baru dan atu merubah sesuatu yang lama”(1991:97).
Hal ini berarti bahwa seseorang harus peduli dengan diri mereka sendiri dan
juga dengan orang lain, dengan belajar secara afektif sehingga diharapkan
mereka atau seorang guru bisa mengerti dengan dirinya sendiri dan dapat
melaksanakan tugas dengan lebih baik selain itu juga mengembangkan sistem
psikologis yang bermanfaat dalam berurusan dengan anak-anak dan pemuda dalam
situasi belajar.
D.
Kelebihan
dan Kekurangan Teori Belajar Kognitif
Adapun kelebihan dan kekurangan teori belajar kognitif
sebagai berikut:
1.
Kelebihan teori belajar kognitif.
a. Menjadikan siswa lebih kreatif
dan mandiri.
b. Membantu siswa memahami bahan belajar secara
lebih mudah.
2. Kekurangan
teori belajar kognitif.
a. Teori ini tidak menyeluruh untuk
semua tingkat pendidikan.
b. Sulit
dipraktikkan, khususnya di tingkat lanjut.
c. Beberapa
prinsip, seperti intelegensi, sulit dipahami dan pemahamannya masih belum
tuntas.
E.
Belajar sebagai
Proses Kognitif
Teori kognitif adalah teori yang umumnya dikaitkan
dengan proses belajar. Kognisi adalah kemampuan psikis atau mental manusia yang
berupa mengamati, melihat, menyangka, memperhatikan, menduga dan menilai.
Dengan kata lain, kognisi menunjuk pada konsep tentang pengenalan. Teori
kognitif menyatakan bahwa proses belajar terjadi karena ada variabel penghalang
pada aspek-aspek kognisi seseorang (Mulyati, 2005).
Teori belajar kognitif lebih mementingkan proses
belajar daripada hasil belajar itu sendiri. Belajar tidak sekedar melibatkan
hubungan antara stimulus dan respon, lebih dari itu belajar melibatkan proses
berpikir yang sangat kompleks. Belajar adalah perubahan persepsi dan pemahaman.
Perubahan persepsi dan pemahaman tidak selalu berbentuk perubahan tingkah laku
yang bisa diamati.
Dari beberapa teori belajar kognitif diatas (khusunya
tiga di penjelasan awal) dapat pemakalah ambil sebuah sintesis bahwa masing
masing teori memiliki kelebihan dan kelemahan jika diterapkan dalam dunia
pendidikan juga pembelajaran. Jika keseluruhan teori diatas memiliki kesamaan
yang sama-sama dalam ranah psikologi kognitif, maka disisi lain juga memiliki
perbedaan jika diaplikasikan dalam proses pendidikan.
Sebagai misal, Teori bermakna ausubel dan discovery learningnya bruner memiliki
sisi pembeda. Dari sudut pandang Teori belajar Bermakna Ausubel memandang bahwa
justru ada bahaya jika siswa yang kurang mahir dalam suatu hal mendapat
penanganan dengan teori belajar discoveri, karena siswa cenderung diberi
kebebasan untuk mengkonstruksi sendiri pemahaman tentang segala sesuatu. Oleh
karenanya menurut teori belajar bermakna guru tetap berfungsi sentral sebatas
membantu mengkoordinasikan pengalaman-pengalaman yang hendak diterima oleh
siswa namun tetap dengan koridor pembelajaran yang bermakna.
Dari poin diatas dapat pemakalah ambil garis tengah
bahwa beberapa teori belajar kognitif diatas, meskipun sama-sama mengedepankan
proses berpikir, tidak serta merta dapat diaplikasikan pada konteks
pembelajaran secara menyeluruh. Terlebih untuk menyesuaikan teori belajar
kognitif ini dengan kompleksitas proses dan sistem pembelajaran sekarang maka
harus benar-benar diperhatikan antara karakter masing-masing teori dan kemudian
disesuakan dengan tingkatan pendidikan maupun karakteristik peserta didiknya.
F.
Gagasan-Gagasan
Kunci di dalam Psikologi Kognitif dalam Konteks Pendidikan.
Kognisi umumnya bersifat
adaptif, namun tidak semua kasus. Evolusi telah membantu kita dengan
baik dalam membentuk perkembang perangkat kognitif yang sanggup menangkap
secara kuat rangsangan dari lingkungan. Perangkat kognitif ini membuat kita
mampu untuk memahami rangsangan internal yang membuat sebagian besar informasi
bisa tersedia bagi kita. Kita bisa memahami, belajar, mengingat, menalar dan
memecahkan masalah dengan keakuratan tinggi. Rangsangan apapun dapat memecahkan
perhatian kita dengan mudah dari memproses informasi dengan benar. Namun
begitu, proses-proses sama yang membawa kita kepada pemahaman, pengingatan, dan
penalaran akurat dikebanyakan situasi bisa juga membawa kita pada situasi
kebingunan. Proses memori dan penalaran kita, rentan terhadap kekeliruan sistematik
tertentu yang dikenal dengan baik. Contoh, kita cenderung menilai secara
berlebihan informasi yang mudah kita terima, bahkan kita melakukan
kekeliruan ini ketika informasi tersebut sama sekali tidak relevan dengan
persoalan yang sedang dihadapi.
Proses kognitif
berinteraksi satu sama lain termasuk denga proses-proses non-kognitif. Meskipun
para psikolog kognitif sering kali mengisolasi fungsi dari proses-proses
kognitif tertentu. Contoh proses-proses memori bergantung pada proses-proses
persepsi. Apa yang anda ingat , sebagian bergantung kepada yang anda pahami.
Dengan cara yang sama, proses berfikir bergantung sebagian kepad proses memori,
contoh Anda tidak bisa merefleksikan apa yang anda ingat. Proses-proses
kognitif juga berinteraksi dengan proses-proses non-kognitif, contohnya anada
bisa belajar lebih baik ketika termotivasiuntuk belajar. Walaupun demikian
pembelajaran anda tampaknya akan melemah jika merasa anda merasa jengkel
terhadap sesuatu dan tidak bis berkonsentrasi pad atugas pembelajaran yang
sedang dihadapi.
Salah satu wilayah psikologi kognitif yang paling
menarik dewasa ini adalah saling berkaitan antara analisis yang kognitif dan
biologis. Contohnya menjadi mungkin untuk menentukan tempat aktifitas didalam
otak yang berkaitan dengan jenis-jenis proses kognitf. Akan tetapi kita tidak
boleh langsung mengasumsikan kalau aktifitas biologis adalah penyebab utama
aktifitas kognitif. Riset justru menunjukkan bahwa proses pembelajaranlah yang
menyebabkan perubahan-perubahan di dalam otak. Dengan kata lain proses-proses
kognitif dapat mempengaruhi struktur-struktur biologis sama seperti struktur
biologis mempengaruhi proses kognitif. Sistem kognitif tidak bekerja secara
terisolasi, namun bekerja dengan sistem lain.
Kognisi perlu dipelajari
lewat beragam metode ilmiah. Semua proses kognitif perlu dipelajari lewat beragam
operasi yang saling melengkapi. Artinya beragam metode studi untuk mencari
suatu pemahaman umum. Semakin banyak perbedaan jenis teknik yang mengarah
kepada kesimpulan yang sama, semakin tinggi keyakinan yang bisa kita miliki
mengenai kesimpulan tersebut. Contohnya, studi-studi tentang waktu reaksi,
tingkat kekeliruan dan pola perbedaan individual, semua mengarah pada
kesimpulan yang sama.
PENUTUP
A.
Simpulan
Belajar kognitif memandang belajar
sebagai proses pemfungsian unsur- unsur kognisi, terutama unsur pikiran, untuk
dapat mengenal dan memahami stimulus yang datang dari luar. Aktivitas belajar
pada diri manusia ditekankan pada proses internal berfikir, yakni proses
pengolahan informasi. Teori belajar kognitif lebih menekankan pada belajar
merupakan suatu proses yang terjadi dalam akal pikiran manusia.
B.
Saran
Teori perkembangan ini telah sedikit banyak memberi
panduan kepada seluruh stakeholder
pendidikan, khususnya praktisi pendidikan, tentang perkembangan yang dilalui
oleh seseorang anak didik dan setiap anak didik tersebut adalah berbeda dari
segi perkembangan kognitifnya yang kemungkinan dipengaruhi oleh faktor-faktor
internal maupun eksternal mereka seperti bakat, lingkungan, makanan, kecerdasan
dan sebagainya.
DAFTAR
PUSTAKA
Dimyati, Mudjiono. 2006. Belajar dan Pembelajaran. Jakarta: PT. Asdi Mahasatya
Dahar, Ratna Wilis. 1988. Teori – Teori Belajar. Jakarta: Departemen Pendidikan dan
Kebudayaan
Hitipeuw, Imanuel. 2009. Belajar & Pembelajaran. Malang: Fakultas Ilmu Pendidikan
Universitas Negeri Malang