Senin, 25 Februari 2013

PENGERTIAN DAN PEMBAGIAN ILMU EKONOMI



Nama               : Galuh Ginanjar Astuti
NIM                : 120141411495
Off                  : A / PLS 2012
Mata Kuliah    : Ekonomi Pendidikan

A.           Pengertian Ilmu Ekonomi
1.           “ Ilmu ekonomi adalah ilmu yang mempelajari tingkah laku manusia dalam hubungan dengan tujuan yang ingin dicapai dan sumber daya langka yang mempunyai berbagai kemungkinan penggunaan. ” (Lionel Robbins)
               Robbins, Lionel. 1952. An Essay on the Necture and Significance of Economics Scienc. London : McMillan.
              Sumber                      : Poll, Dra. Carla. 1994. Pengantar Ilmu Ekonomi I ( hlmn. 22). Jakarta: PT Gramedia Pustaka Umum.

2.           “ Economics is the study of how people and society end up choosing, with or without the use of money, to employ scarce productive resources that could have alternatif uses, to produce various commodities and distribute them for consumption , now or in the future among various persons and groups in society. It analyzes the costs and benefits of improving patterns of resource allocation. “ (Paul Anthony Samuelson)
              Sumber                      : Samuelson, Paul Anthony. 1976. Economics (page 3). United States of America: McRaw-Hill Book Company.

3.           “ Ilmu ekonomi adalah studi mengenai bagaimana caranya manusia dan masyarakat sampai kepada pemilihan, dengan atau tanpa menggunakan uang, untuk mempekerjakan sumber-sumber produksi langka yang dapat mempunyai kegunaan-kegunaan alternatif, untuk menghasilkan berbagai macam barang dan mendistribusikannya untuk dikonsumsir, sekarang atau masa datang, di antara berbagai orang dan golongan dalam masyarakat. “ (Paul Anthony Samuelson)
Samuelson, Paul Anthony. 1975. Teori Ekonomi I (edisi VIII, hlmn. 6).  Jakarta: Bhratara dan Yogyakarta: Kanisius.
              Sumber                      : Poll, Dra. Carla. 1994. Pengantar Ilmu Ekonomi I ( hlmn. 22). Jakarta: PT Gramedia Pustaka Umum.

             
4.         “ Economics is the study of how societies use scarce resources to produce valuable commodities and distribute them among different people. “ ( Paul Anthony Samuelson)
              Samuelson, Paul Anthony, Nordhans, William D. Economics (17th edition, page 4)
              Sumber                      : Rosyidi, Suherman. Pengantar Teori Ekonomi : Pendekatan kepada Teori Ekonomi Mikro dan Makro. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada.

5.         “ Ilmu ekonomi adalah studi tentang bagaimana masyarakat mengelola sumber-sumber daya yang selalu terbatas atau langka. “ (N.G. Mankiw)
Sumber                      : Mankiw, N.G. 2000. Pengantar Ekonomi (hlmn. 3). Jakarta: Erlangga.

6.         “Ilmu ekonomi adalah ilmu yang mempelajari bagaimana tiap rumah tangga atau masyarakat alam mengelola sumber daya yang mereka miliki untuk memenuhi kebutuhan mereka.” (Deliarnov)
Sumber                      : Deliarnov. 1997. Perkembangan Pemikiran Ekonomi ( hlmn. 5). Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada.


B.            Pembagian Ilmu Ekonomi
1.             Ekonomi Makro dan Ekonomi Mikro
“ Teori ekonomi diperkembangkan ke arah dua jurusan yaitu menuju ke bagian mikro dan bagian makro. Bagian makro membahas perilaku negara, masyarakat atau kelompok masyarakat. Variabel yang dibahas adalah inter pada pendapatan nasional, kesempatam kerja, pengangguran, inflasi, anggaran pemerintah dan sebagainya. Sedangkan teori ekonomi mikro mambahas perilaku agen ekonomi yang kecil yaitu konsumen individual atau sebuah perusahaan... ”
“ Ilmu ekonomi mikro membahas cara kerja industri individual dan perilaku unit-unit pengambil keputusan ekonomi individual; perusahaan bisnis dan rumah tangga... Ilmu ekonomi makro memperhatikan perekonomian secara keseluruhan. Ilmu ekonomi makro tidak mencoba memahami apa yang menentukan output perusahaan atau industri tunggal atau pola konsumsi rumah tangga tunggal atau kelompok rumah tangga. Ilmu eknomi makro sebaliknya sebaliknya menelaah faktor-faktor yang menetukan output nasional, atau produk nasional. Jadi, ilmu ekonomi mikro berhubungan dengan pendapatan rumah tangga, sedangkan  ilmu ekonomi mikro berhubungan dengan pendapatan nasional. “
Sumber                      : E. Case, Karl, C. Fair, Ray. 2006. Prinsip-prinsip Ekonomi (jilid 1, edisi ke 8). Jakarta: Erlangga.
Terjemahan dari        : E. Case, Karl, C. Fair, Ray. Principles of economics (8th edition). New Jersey: Pearson Education.
2.             Ilmu Ekonomi Deskriptif, Ilmu Ekonomi Teori, dan Ilmu Ekonomi Terapan
a.       Ilmu Ekonomi Deskriptif
Ilmu ekonomi deskriptif adalah ilmu ekonomi dimana kita mengumpulkan semua kenyataan yang penting tentang pokok pembicaraan yang tertentu, contoh; sistem pertanian dari Basultoland, industri katun di India.
b.      Ilmu Ekonomi Teori
Ilmu ekonomi teori adalah ilmu ekonomi dimana kita memberikan penjelasan yang disederhanakan tentang cara kerja suatu sistem ekonomi dan ciri-ciri yang penting dari sistem seperti itu. Dalam ilmu ekonomi teori ditunjukkan bagaimana dua atau lebih banyak hal berhubungan satu sama lain atau saling mempengaruhi.
c.       Ilmu Ekonomi Terapan
Ilmu ekonomi terapan adalah ilmu ekonomi dimana kita mencoba mempergunakan rangka dasar umum dari analisis yang diberikan oleh ekonomi teori dengan mencari kebijakan-kebijakan yang tepat untuk mengatasi masalah-masalah ekonomis.

Sabtu, 09 Februari 2013

TEORI BELAJAR KOGNITIF




TEORI BELAJAR KOGNITIF


Makalah
Untuk Memenuhi Tugas
Mata Kuliah Belajar dan Pembelajaran
Yang dibina oleh Bapak Ahmad Mutadzakir


Oleh:
Galuh Ginanjar Astut
Maksum Akbar









Description: um






UNIVERSITAS NEGERI MALANG
FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN
JURUSAN PENDIDIKAN LUAR SEKOLAH
Februari 2013
 



PENDAHULUAN

A.                Latar Belakang
Belajar merupakan kegiatan orang sehari-hari. Kegiatan belajar tersebut dapat dihayati (dialami) oleh orang yang sedang belajar. Di samping itu, kegiatan belajar juga dapat diamati oleh orang lain. Kegiatan belajar yang berupa perilaku kompleks tersebut tersebut telah lama menjadi objek penelitian ilmuan. Kompleksnya perilaku belajar tersebut menimbulkan berbagai teori belajar.
Teori pembelajaran merupakan penyedia panduan bagi pengajar untuk membantu siswa didik dalam mengembangkan kognitif, emosional, sosial, fisik, dan spiritual. Panduan-panduan tersebut adalah kejelasan informasi yang mendeskripsikan tujuan, pengetahuan yang diperlukan, dan unjuk kerjaan itu penting. Hal ini adalah untuk mengantisipasi perubahan yang terjadi di dunia pendidikan. Jadi teori pembelajaran itu penting sebagai suatu dasar pengetahuan yang memandu praktek pendidikan: “bagaimana memfasilitasi belajar” dalam dunia pendidikan yang senantiasa berubah, terlebih dalam cakupan yang sistemik.
Belajar secara umum dapat diartikan sebagai proses perubahan perilaku yang relatif menetap sebagai hasil hasil dari pengalaman. Perubahan tersebut tentu tidak langsung terjadi karena akan memerlukan proses. Dalam suatu proses belajar ada banyak sekali aspek yang harus diperhatikan seperti apa saja teori belajar, prinsip-prinsip dalam belajar, pendekatan terhadap peserta didik yang dilakukan oleh fasilitator atau guru dan masih banyak lagi.
Berikut ini kami akan membahas tentang salah satu teori belajar yang ada yakni teori belajar kognitif. Menurut Jean Piaget, 2 hal penting yg harus diingat tentang membangun struktur kognitif yaitu seseorang terlibat secara aktif dalam membangun proses dan lingkungan dimana seseorang berinteraksi penting untuk perkembangan struktural. Hal tersebut tentu berbeda dengan beberapa teori lainnya. Teori belajar kognitif lebih menekankan pada belajar merupakan suatu proses belajar yang terjadi dalam akal pikiran manusia atau gagasan manusia bahwa bagian-bagian suatu situasi saling berhubungan dalam konteks situasi secara keseluruhan. Jadi belajar melibatkan proses berfikir yang kompleks dan mementingkan proses belajar.
B.                 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah di atas maka dikemukakan rumusan masalah sebagai berikut :
1.      apakah konsep dari teori belajar kognitif ?
2.      bagaimana implikasi teori belajar kognitif dalam dunia pendidikan?
C.                Tujuan
Tujuan dari penulisan makalah ini adalah sebagai berikut :
1.      memahami konsep teori belajar kognitif.
2.      memahami implikasi teori belajar kognitif dalam dunia pendidikan.

PEMBAHASAN

A.                Teori Belajar Konitif
Belajar kognitif memandang belajar sebagai proses pemfungsian unsur-unsur kognisi, terutama unsur pikiran, untuk dapat mengenal dan memahami stimulus yang datang dari luar. Aktivitas belajar pada diri manusia ditekankan pada proses internal berfikir, yakni proses pengolahan informasi.
Teori belajar kognitif lebih menekankan pada belajar merupakan suatu proses yang terjadi dalam akal pikiran manusia. Seperti juga diungkapkan oleh Winkel (1996: 53) bahwa “Belajar adalah suatu aktivitas mental atau psikis yang berlangsung dalam interaksi aktif dengan lingkungan yang menghasilkan perubahan-perubahan dalam pengetahuan pemahaman, ketrampilan dan nilai sikap. Perubahan itu bersifat secara relatif dan berbekas”.
Sehingga dapat disimpulkan bahwa pada dasarnya belajar adalah suatu proses usaha yang melibatkan aktivitas mental yang terjadi dalam diri manusia sebagai akibat dari proses interaksi aktif dengan lingkungannya untuk memperoleh suatu perubahan dalam bentuk pengetahuan, pemahaman, tingkah laku, ketrampilan dan nilai sikap yang bersifat relatif dan berbekas.

B.                Prinsip-Prinsip Teori Belajar Kognitif
Berdasarkan pendapat dari Drs. Bambang Warsita (2008:89) yang menyatakan tentang prinsip- prinsip dasar teori kognitifisme, antara lain:
  • pembelajaran merupakan suatu perubahan status pengetahuan
  • peserta didik merupakan peserta aktif didalam proses pembelajaran
  • menekankan pada pola pikir peserta didik
  • berpusat pada cara peserta didik mengingat, memperoleh kembali dan menyimpan informasi dalam ingatannya
  • menekankan pada pengalaman belajar, dengan memandang pembelajaran sebagai proses aktif di dalam diri peserta didik
  • menerapkan reward and punishment
  • hasil pembelajaran tidak hanya tergantung pada informasi yang disampaikan guru, tetapi juga pada cara peserta didik memproses informasi tersebut.

C.                Tokoh-Tokoh Aliran Kognitif
1.                  Teori Belajar Cognitive Developmental dari Piaget
Piaget memandang bahwa proses berpikir sebagai aktivitas gradual dari fungsi intelektual dari konkret menuju abstrak. Piaget adalah ahli psikolog developmentat karena penelitiannya mengenai tahap tahap perkembangan pribadi serta perubahan umur yang mempengaruhi kemampuan belajar individu. Menurut Piaget, pertumbuhan kapasitas mental memberikan kemampuan-kemapuan mental yang sebelumnya tidak ada. Pertumbuhan intelektuan adalah tidak kuantitatif, melainkan kualitatif. Dengan kata lain, daya berpikir atau kekuatan mental anak yang berbeda usia akan berbeda pula secara kualitatif.
Jean Piaget mengklasifikasikan perkembangan kognitif anak menjadi beberapa tahap yaitu.
a.                   Tahap sensory – motor, yakni perkembangan ranah kognitif yang terjadi pada usia 0-2 tahun, Tahap ini diidentikkan dengan kegiatan motorik dan persepsi yang masih sederhana. Ciri-ciri tahap sensorimotor adalah:
1)      didasarkan tindakan praktis.
2)      inteligensi bersifat aksi, bukan refleksi.
3)      menyangkut jarak yang pendek antara subjek dan objek.
4)      mengenai periode sensorimotor:
5)      umur hanyalah pendekatan. Periode-periode tergantung pada banyak faktor: lingkungan sosial dan kematangan fisik.
6)      urutan periode tetap.
7)      perkembangan gradual dan merupakan proses yang kontinu.
b.                  Tahap pre – operational, yakni perkembangan ranah kognitif yang terjadi pada usia 2- 7 tahun. Tahap ini diidentikkan dengan mulai digunakannya symbol atau bahasa tanda, dan telah dapat memperoleh pengetahuan berdasarkan pada kesan yang agak abstrak.
c.                   Tahap concrete – operational, yang terjadi pada usia 7-11 tahun. Tahap ini dicirikan dengan anak sudah mulai menggunakan aturan-aturan yang jelas dan logis. Anak sudah tidak memusatkan diri pada karakteristik perseptual pasif.
d.                  Tahap formal – operational, yakni perkembangan ranah kognitif yang terjadi pada usia 11-15 tahun. Ciri pokok tahap yang terahir ini adalahanak sudah mampu berpikir abstrak dan logisdengan menggunakan pola pikir “kemungkinan”.
Menurut Piaget, proses adaptasi seseorang dengan lingkungannya terjadi secara simultan melalui dua bentuk proses, asimilasi dan akomodasi. Asimilasi terjadi jika pengetahuan baru yang diterima seseorang cocok dengan struktur kognitif yang telah dimiliki seseorang tersebut.  Sebaliknya, akomodasi terjadi  jika struktur kognitif yang telah dimiliki seseorang harus direkonstruksi atau dikode ulang disesuaikan dengan informasi yang baru diterima.
Dalam teori perkembangan kognitif ini Piaget juga menekankan pentingnya penyeimbangan (equilibrasi) agar seseorang dapat terus mengembangkan dan menambah pengetahuan sekaligus menjaga stabilitas mentalnya. Equilibrasi ini dapat dimaknai sebagai sebuah keseimbangan antara asimilasi dan akomodasi sehingga seseorang dapat menyatukan pengalaman luar dengan struktur dalamya. Proses perkembangan intelek seseorang berjalan dari disequilibrium menuju equilibrium melalui asimilasi dan akomodasi.
2.                  David Ausubel
Menurut Ausubel dalam buku karya Drs. Bambang Warsita bahwa “belajar haruslah bermakna, materi yang dipelajari diasimilasi secara nonarbitrer dan berhubungan dengan pengetahuan yang dimiliki sebelumnya”(2008:72). Hal ini berari bahwa pembelajaran bermakna merupakan suatu proses yang dikaitkan dengan informasi baru pada konsep-konsep relevan yang terdapat dalam struktur kognitif peserta didik. Dimana Proses belajar tidak sekedar menghafal konsep-konsep atau fakta-fakta saja, tetapi merupakan kegiatan yang menghubungkan konsep-konsep untuk menghasilkan pemahaman yang utuh sehingga konsep yang dipelajari akan dipahami secara baik dan tidak mudah dilupakan. Jadi guru harus menjadi perancang pembelajaran dan pengembang program pembelajaran dengan berusaha mengetahui dan menggali konsep-konsep yang dimiliki peserta didik dan membantu memadukan secara harmonis dengan pengetahuan baru yang dipelajari.
Langkah-langkah pembelajaran bermakna menurut Ausebel,dalam merancang pembelajaran antara lain: 1) menentukan tujuan pembelajaran; 2) melakukan identifikasi peserta didik; 3) memilih materi pembelajaran sesuai karakteristik peserta didik dan mengaturnya dalam bentuk konsep inti; 4) menentukan topik peserta didik dalam bentuk advance organizers; 5) mengembangkan bahan belajar untuk dipelajari peserta didik; 6) mengatur topik pembelajaran dari yang sederhana ke kompleks; 7) melakukan penilaian proses dan hasil belajar peserta didik.
3.                  Jerome Bruner
Berdasarkan Drs. Wasty Soemanto (1997:127) dan Drs. Bambang warsita(2008:71) dimana Jarome Bruner mengusulkana teori yang disebutnya free discovery learning.Teori ini bertitik tolak pada teori kognitif, yang menyatakan belajar adalah perubahan persepsi dan pemahan. Maksudnya, teori ini menjelaskan bahwa proses belajar akan berjalan dengan baik dan kreatif jika guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk menemukan suatu aturan termasuk konsep, teori, ide, definisi dan sebagainya melalui contoh-contoh yang menggambarkan atau mewakili aturan yang menjadi sumbernya.
Keuntungan belajar menemukan : Menimbulkan rasa ingin tahu siswa sehingga dapat memotivasi siswa sehingga dapat menemukan jawabannya. Menimbulkan keterampilan memecahkan masalahnya secara mandiri dan mengharuskan siswa untuk menganalisis dan memanipulasi informasi. Menurut Burner ada tiga tahap perkembangan kognitif seseorang yang ditentukan oleh cara melihat lingkungan, antara lain: tahap pertama enaktif yaitu peserta didik melakukan aktivitas dalam usaha memahami lingkungan; tahap kedua, ikonik yaitu peserta didik melihat dunia melalui gambar dan visualisasi verbal; tahap yang ketiga, simbolok yaitu peserta didik mempunyai gagasan abstrak dimana komunikasi dibantu sistem simbolik.
Langkah-langkah pembelajaran dalam merancang pembelajaran menurut Bruner antara lain: 1) menentukan tujuan pembelajaran; 2) melakukan identifikasi peserta didik; 3) memilih materi pembelajaran; 4) menentukan topik secara induktif; 5) mengembangkan bahan belajar untuk dipelajari peserta didik; 6) mengatur topik pembelajaran dari yang sederhana ke kompleks; 7) melakukan penilaian proses dan hasil belajar peserta didik.
4.                  Albert Bandura
Bandura berpendapat tentang teori kognitif sosial. Seperti yang dijelaskan dalam buku karya John W. Santrock (2007:285) yang menyatakan bahwa teori Kognitif Sosial (Social Cognitive Theory) merupakan faktor sosial dan kognitif dan juga faktor perilaku, memainkan peran penting dalam pembelajaran. Hal ini berarti bahwa faktor kognitif berupa ekspektasi murid untuk meraih keberhasilan sedangkan faktor sosial mencakup pengamatan murid terhadap perilaku orang tuanya. Jadi menurut Bandura antara faktor kognitif/person, faktor lingkungan dan faktor perilaku mempengaruhi satu sama lain dan faktor-faktor ini bisa saling berinteraksi untuk mempengaruhi pembelajaran. Faktor kognitif mencakup ekspektasi, keyakinan, strategi, pemikiran dan kecerdasan.
5.                  Kurt Lewin
Tokoh teori belajar kognitif adalah Kurt Lewin yang menyatakan tentang teori belajar medan kognitif (cognitive-field learning theory). Seperti yang di jelaskan oleh Nana Sudjana dalam bukunya yang menjelaskan bahwa dalam teori belajar medan kognitif, “belajar didefinisikan sebagaai proses interaksional dimana pribadi menjangkau wawasan-wawasan baru dan atu merubah sesuatu yang lama”(1991:97). Hal ini berarti bahwa seseorang harus peduli dengan diri mereka sendiri dan juga dengan orang lain, dengan belajar secara afektif sehingga diharapkan mereka atau seorang guru bisa mengerti dengan dirinya sendiri dan dapat melaksanakan tugas dengan lebih baik selain itu juga mengembangkan sistem psikologis yang bermanfaat dalam berurusan dengan anak-anak dan pemuda dalam situasi belajar.


D.                Kelebihan dan Kekurangan Teori Belajar Kognitif
Adapun kelebihan dan kekurangan teori belajar kognitif sebagai berikut:
1.                  Kelebihan teori belajar kognitif.
a.    Menjadikan siswa lebih kreatif dan mandiri.
b.    Membantu siswa memahami bahan belajar secara lebih mudah.
2.         Kekurangan teori belajar kognitif.
a.   Teori ini tidak menyeluruh untuk semua tingkat pendidikan.
b.  Sulit dipraktikkan, khususnya di tingkat lanjut.
c.   Beberapa prinsip, seperti intelegensi, sulit dipahami dan pemahamannya masih belum tuntas.

E.                Belajar sebagai Proses Kognitif
Teori kognitif adalah teori yang umumnya dikaitkan dengan proses belajar. Kognisi adalah kemampuan psikis atau mental manusia yang berupa mengamati, melihat, menyangka, memperhatikan, menduga dan menilai. Dengan kata lain, kognisi menunjuk pada konsep tentang pengenalan. Teori kognitif menyatakan bahwa proses belajar terjadi karena ada variabel penghalang pada aspek-aspek kognisi seseorang (Mulyati, 2005).
Teori belajar kognitif lebih mementingkan proses belajar daripada hasil belajar itu sendiri. Belajar tidak sekedar melibatkan hubungan antara stimulus dan respon, lebih dari itu belajar melibatkan proses berpikir yang sangat kompleks. Belajar adalah perubahan persepsi dan pemahaman. Perubahan persepsi dan pemahaman tidak selalu berbentuk perubahan tingkah laku yang bisa diamati.
Dari beberapa teori belajar kognitif diatas (khusunya tiga di penjelasan awal) dapat pemakalah ambil sebuah sintesis bahwa masing masing teori memiliki kelebihan dan kelemahan jika diterapkan dalam dunia pendidikan juga pembelajaran. Jika keseluruhan teori diatas memiliki kesamaan yang sama-sama dalam ranah psikologi kognitif, maka disisi lain juga memiliki perbedaan jika diaplikasikan dalam proses pendidikan.
Sebagai misal, Teori bermakna ausubel dan discovery learningnya bruner memiliki sisi pembeda. Dari sudut pandang Teori belajar Bermakna Ausubel memandang bahwa justru ada bahaya jika siswa yang kurang mahir dalam suatu hal mendapat penanganan dengan teori belajar discoveri, karena siswa cenderung diberi kebebasan untuk mengkonstruksi sendiri pemahaman tentang segala sesuatu. Oleh karenanya menurut teori belajar bermakna guru tetap berfungsi sentral sebatas membantu mengkoordinasikan pengalaman-pengalaman yang hendak diterima oleh siswa namun tetap dengan koridor pembelajaran yang bermakna.
Dari poin diatas dapat pemakalah ambil garis tengah bahwa beberapa teori belajar kognitif diatas, meskipun sama-sama mengedepankan proses berpikir, tidak serta merta dapat diaplikasikan pada konteks pembelajaran secara menyeluruh. Terlebih untuk menyesuaikan teori belajar kognitif ini dengan kompleksitas proses dan sistem pembelajaran sekarang maka harus benar-benar diperhatikan antara karakter masing-masing teori dan kemudian disesuakan dengan tingkatan pendidikan maupun karakteristik peserta didiknya.

F.                 Gagasan-Gagasan Kunci di dalam Psikologi Kognitif dalam Konteks Pendidikan.
Kognisi umumnya bersifat adaptif, namun tidak semua kasus. Evolusi telah membantu kita dengan baik dalam membentuk perkembang perangkat kognitif yang sanggup menangkap secara kuat rangsangan dari lingkungan. Perangkat kognitif ini membuat kita mampu untuk memahami rangsangan internal yang membuat sebagian besar informasi bisa tersedia bagi kita. Kita bisa memahami, belajar, mengingat, menalar dan memecahkan masalah dengan keakuratan tinggi. Rangsangan apapun dapat memecahkan perhatian kita dengan mudah dari memproses informasi dengan benar. Namun begitu, proses-proses sama yang membawa kita kepada pemahaman, pengingatan, dan penalaran akurat dikebanyakan situasi bisa juga membawa kita pada situasi kebingunan. Proses memori dan penalaran kita, rentan terhadap kekeliruan sistematik tertentu yang dikenal dengan baik. Contoh, kita cenderung menilai secara berlebihan  informasi yang mudah kita terima, bahkan kita melakukan kekeliruan ini ketika informasi tersebut sama sekali tidak relevan dengan persoalan yang sedang dihadapi.
Proses kognitif berinteraksi satu sama lain termasuk denga proses-proses non-kognitif. Meskipun para psikolog kognitif sering kali mengisolasi fungsi dari proses-proses kognitif tertentu. Contoh proses-proses memori bergantung pada proses-proses persepsi. Apa yang anda ingat , sebagian bergantung kepada yang anda pahami. Dengan cara yang sama, proses berfikir bergantung sebagian kepad proses memori, contoh  Anda tidak bisa merefleksikan apa yang anda ingat. Proses-proses kognitif juga berinteraksi dengan proses-proses non-kognitif, contohnya anada bisa belajar lebih baik ketika termotivasiuntuk belajar. Walaupun demikian pembelajaran anda tampaknya akan melemah jika merasa anda merasa jengkel terhadap sesuatu dan tidak bis berkonsentrasi pad atugas pembelajaran yang sedang dihadapi.
Salah satu wilayah psikologi kognitif yang paling menarik dewasa ini adalah saling berkaitan antara analisis yang kognitif dan biologis. Contohnya menjadi mungkin untuk menentukan tempat aktifitas didalam otak yang berkaitan dengan jenis-jenis proses kognitf. Akan tetapi kita tidak boleh langsung mengasumsikan kalau aktifitas biologis adalah penyebab utama aktifitas kognitif. Riset justru menunjukkan bahwa proses pembelajaranlah yang menyebabkan perubahan-perubahan di dalam otak. Dengan kata lain proses-proses kognitif dapat mempengaruhi struktur-struktur biologis sama seperti struktur biologis mempengaruhi proses kognitif. Sistem kognitif tidak bekerja secara terisolasi, namun bekerja dengan sistem lain.
Kognisi perlu dipelajari lewat beragam metode ilmiah. Semua proses kognitif perlu dipelajari lewat beragam operasi yang saling melengkapi. Artinya beragam metode studi untuk mencari suatu pemahaman umum. Semakin banyak perbedaan jenis teknik yang mengarah kepada kesimpulan yang sama, semakin tinggi keyakinan yang bisa kita miliki mengenai kesimpulan tersebut. Contohnya, studi-studi tentang waktu reaksi, tingkat kekeliruan dan pola perbedaan individual, semua mengarah pada kesimpulan yang sama.

PENUTUP

A.                Simpulan
Belajar kognitif memandang belajar sebagai proses pemfungsian unsur- unsur kognisi, terutama unsur pikiran, untuk dapat mengenal dan memahami stimulus yang datang dari luar. Aktivitas belajar pada diri manusia ditekankan pada proses internal berfikir, yakni proses pengolahan informasi. Teori belajar kognitif lebih menekankan pada belajar merupakan suatu proses yang terjadi dalam akal pikiran manusia.

B.                Saran
Teori perkembangan ini telah sedikit banyak memberi panduan kepada seluruh  stakeholder pendidikan, khususnya praktisi pendidikan, tentang perkembangan yang dilalui oleh seseorang anak didik dan setiap anak didik tersebut adalah berbeda dari segi perkembangan kognitifnya yang kemungkinan dipengaruhi oleh faktor-faktor internal maupun eksternal mereka seperti bakat, lingkungan, makanan, kecerdasan dan sebagainya.

DAFTAR PUSTAKA

Dimyati, Mudjiono. 2006. Belajar dan Pembelajaran. Jakarta: PT. Asdi Mahasatya
Dahar, Ratna Wilis. 1988. Teori – Teori Belajar. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan
Hitipeuw, Imanuel. 2009. Belajar & Pembelajaran. Malang: Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Malang